Praktik Bisnis Rasulullah SAW

Bisnis merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia untuk memperoleh pendapatan atau penghasilan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara mengelola sumber daya ekonomi secara efektif dan efisien. sehingga masalah bisnis merupakan masalah penting dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu bisnis berjalan terus, tanpa pandang bulu, apakah yang menjalankan bisnis tersebut sebagai orang muslim atau non muslim.

Bagi orang muslim, bisnis bukanlah fenomena baru, namun fenomena lama yang telah dijalankan oleh panutan umat muslim, yaitu Rasulullah SAW. Beliau telah gamblang menjelaskan kepada umatnya, baik melalui sabda beliau maupun melalui praktik secara langsung. Maka sudah seharusnya kaum muslimin meneladani sifat-sifat dalam praktik bisnis yang dilakukan oleh Nabi. Karena dewasa ini, begitu banyak praktik bisnis yang berkembang dan realitas praktik bisnis yang ada seringkali mengabaikan nilai-nilai moralitas, etika dan menyimpang dari apa yang diajarkan Nabi.

Perhatian terhadap praktik bisnis Rasulullah SAW mulai mengemuka seiring dengan munculnya konsep ekonomi Islam. Selain membangun kerangka teori ekonomi Islam dan berbagai aspeknya, juga dicari tokoh yang dapat dijadikan teladan dalam pengelolaan sumber-sumber ekonomi. Muhammad SAW merupakan figur yang tepat dijadikan sebagai teladan dalam bisnis dan perilaku ekonomi yang baik. Beliau tidak hanya memberi tuntunan dan pengarahan tentang bagaimana kegiatan ekonomi, tetapi beliau mengalami sendiri menjadi seorang pengelola bisnis.

Kesuksesan Nabi Muhammad SAW telah banyak dibahas para ahli sejarah. Salah satu sisi kesuksesan Nabi ‎Muhammad adalah kiprahnya sebagai seorang padagang (wirausahawan). Karena itu sebagai bussnisman sukses yang bermoral dan beretika kita ‎perlu merekonstruksi sisi tijarah Nabi Muhammad SAW, khususnya manajemen bisnis ‎yang beliau terapkan sehingga mencapai sukses spektakuler di zamannya.‎

 

  1. B.       PEMBAHASAN
  2. 1.        Pembentukan Jiwa Wirausaha

Kewirausahaan (Entrepreneurship) Nabi Muhammad tidak terjadi begitu saja, tetapi hasil dari proses yang panjang dan dimulai sejak beliau masih kecil. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Collin dan Moores (1964) dan Zaleznik (1976) yang mengatakan bahwa, “the act entrepreneurship is an act patterned after modes of coping with early childhood experience” Menurut mereka, pengalaman masa kecil dapat mempengaruhi kesuksesan dan kegagalan seseorang. Pendapat ini disepakati bahwa apa yang terjadi pada tahun-tahun pertama kehidupan akan membuat perbedaan yang berarti dalam periode kehidupan berikutnya. Kata orang bijak “Many greatmen started as newspaper boys, banyak orang besar awalnya adalah penjual Koran”, meski pengalaman masa kecil tidak selamanya positif atau menyenangkan tapi tidak menghalangi untuk menjadi seorang wirausahawan yang tangguh. Sebuah penelitian yang  dilakukan oleh Manfred Kets de Vries (1995) menyimpulkan bahwa kerasnya kehidupan masa kecil menimbulkan dorongan untuk memimpin.

Dalam konteks Muhammad SAW, beliau juga mempunyai pengalaman yang pahit dengan terlahir sebagai anak yatim. Ayahnya, Abdullah meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan ibunya. Muhammad kecil menjadi yatim piatu pada usia 6 tahun. Kemudian beliau diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib, setelah wafat, dilanjutkan pamannya Abu Thalib. Muhammad kecil harus membantu ekonomi keluarga dengan bekerja “serabutan” kepada penduduk Makkah. Pengalaman masa kecil inilah yang menjadi modal psikologis beliau ketika menjadi wirausahawan di kemudian hari.

Pekerjaan menggembala ternak merupakan pekerjaan yang umum dilakukan oleh para Nabi dan Rasul, seperti Nabi Musa, Daud, dan Isa ‘alaihissalam. Menurut catatan sejarah, di masa kecil Nabi Muhammad pernah menggembala ternak penduduk Makkah. Menggembala merupakan pekerjaan yang memerlukan keahlian leadership dan manejemen yang baik. Mungkin latar belakang seperti ini memang digariskan oleh Allah  SWT kepada calon Rasul yang akan mengemban risalah kenabian dan memimpin umat.

Diantara beberapa fungsi Leadership penggembala adalah sebagai berikut:

  1. Pathfinding (mencari) padang gembalaan yang subur.
  2. Directing (mengarahkan) menggiring ternak ke padang gembalaan.
  3. Controlling (mengawasi) agar tidak tersesat atau terpisah dari kelompok.
  4. Protecting (melindungi) dari hewan pemangsa dan pencuri.
  5. Reflecting (perenungan) alam, manusia, dan ciptaan Allah.

 

  1. 2.        Praktik Bisnis Muhammad SAW

Karir bisnis Nabi Muhammad dimulai ketika beliau masih berusia 12 tahun. Beliau ikut pamannya berdagang “ekspor-impor” ke Syam. Sejak itulah Nabi Muhammad melakukan semacam kerja magang (intership) yang berguna kelak ketika beliau mengelola bisnisnya sendiri. Menjelang usia dewasa, beliau memutuskan perdagangan sebagai karirnya. Beliau menyadari bahwa pamannya bukanlah orang yang kaya namun memiliki beban keluarga yang cukup besar. Oleh karena itu, Muhammad muda berpikiran untuk ikut meringankan beban pamannya dengan berdagang. Agaknya, profesi menjadi pedagang ini telah dimulai lebih awal daripada yang telah dikenal umum dengan modal dari Khadijah. Ketika merintis karirnya tersebut beliau memulai dengan berdagang kecil-kecilan di kota Makkah. Beliau membeli barang-barang dari satu pasar kemudian menjualnya kepada orang lain.

Pada saat belum memiliki modal, beliau menjadi manajer perdagangan para investor (shohibul mal) berdasarkan upah (ujrah) dan bagi hasil. Para pemilik modal (investor) di Makkah waktu itu semakin banyak yang membuka peluang kemitraan dengan Muhammad. Salah satunya adalah Khadijah yang menawarkan kemitraan berdasarkan mudharabah (bagi hasil). Dalam hal ini Khadijah bertindak sebagai pemodal (shahibul mal), sementara Muhammad sebagai pengelola (mudharib). Akhirnya Khadijah mengangkat Nabi sebagai manajer ke pusat perdagangan Habshah di Yaman. Kecakapannya sebagai wirausaha telah mendatangkan keuntungan besar baginya dan investornya. Tidak satu pun jenis bisnis yang ia tangani mendapat kerugian. Ia juga empat kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syiria, Jorash, dan Bahrain di sebelah timur Semenanjung Arab.

Sejak sebelum menjadi mudharib (fund manager) dari harta  Khadijah, ia kerap melakukan lawatan bisnis, seperti ke kota Busrah di Syiria dan Yaman. Ia juga melakukan beberapa perlawatan ke Bahrain dan Abisinia. Di pertengahan usia 30-an, ia banyak terlibat dalam bidang perdagangan seperti kebanyakan pedagang-pedagang lainnya. Tiga dari perjalanan dagang Nabi setelah menikah, telah dicatat dalam sejarah: pertama, perjalanan dagang ke Yaman, kedua, ke Najd, dan ketiga ke Najran. Diceritakan juga bahwa di samping perjalanan-perjalanan tersebut, Nabi terlibat dalam urusan dagang yang besar, selama musim-musim haji, di festival dagang Ukaz dan Dzul Majaz. Sedangkan musim lain, Nabi sibuk mengurus perdagangan grosir pasar-pasar kota Makkah.

Setelah menikah, Nabi Muhammad semakin memperlebar sayap bisnisnya. Namun sekarang beliau bertindak sebagai manajer sekaligus mitra dalam usaha istrinya. Untuk menjalankan bisnisnya, Nabi Muhammad melakukan perjalanan ke berbagai pusat perdagangan di seluruh penjuru negerinya dan negeri tetangga.

 

 

 

 

Perjalanan karir Nabi Muhammad sebagai seorang businessman dapat dirumuskan sebagai berikut:

Usia

 

63

         

 

    Memastikan umat Islam tidak merugi di akhirat nanti karena pola bisnis riba, haram dan tidak bermoral
53          

 

    Membangun pasar di samping masjid
40          

 

  Berdakwah meluruskan tatacara dan moralitas bisnis umat
37          

 

Peduli dengan masalah akhlak, sosial, dan ekonomi masyarakat
25          

Menjadi bussines owner dan aliansi dengan investor

17        

Usaha mandiri sebagai manager/agen perdagangan regional

12      

Internship/magang usaha dan dagang

0    

 

                 Aktifitas utama karir bisnis dan dakwah Rasulullah SAW

Gambar 1. Perkembangan karir bisnis Muhammad SAW

Grafik di atas dapat kita uraikan sebagaimana berikut ini:

  1. Muhammad telah mengenal perdagangan di usia 12 tahun atau diistilahkan dengan magang “Internship”.
  2. Hal ini terus dilakukan sampai usia 17 tahun ketika beliau telah mulai membuka usaha sendiri. Dengan demikian pada usia ini beliau sudah menjadi “Business Manager“.
  3. Dalam perkembangan selanjutnya, ketika pemilik modal Makkah mempercayakan pengelolaan perdagangan mereka kepada Muhammad muda, beliau menjadi “Investment Manager“.
  4. Ketika beliau menikah dengan Khadijah dan terus mengelola perdangannya maka status beliau naik menjadi “Business Owner“.
  5. Ketika usia beliau menginjak 30, beliau sudah menjadi “Investor” sehingga beliau sudah mencapai tingkatan Financial Freedom (Kebebasan Uang dan Waktu).

Dalam melaksanakan bisnis-bisnisnya tersebut beliau memperkaya diri dengan kejujuran, keteguhan memegang janji, dan sifat-sifat mulia lainnya sehingga penduduk Makkah mengenal Muhammad sebagai seorang yang terpercaya (Al Amin).

Kurang lebih selama 28 tahun Nabi Muhammad menjalankan usaha dagang ke Yaman, Syria, Busra, Iraq, Yordania, dan kota-kota di perdagangan di jazirah Arab lainnya. Dengan demikian, di usia muda, Nabi Muhammad sudah menjadi pedagang internasional, karena wilayah perdagangannya meliputi hampir seluruh jazirah Arab.

  1. 3.        Implementasi Manajemen Bisnis Rasulullah

Jauh sebelum Frederick W.Taylor (1856-1915) dan Henry Fayol mengangkat prinsip manajemen sebagai suatu disiplin ilmu, Nabi Muhammad SAW sudah mengimplementasikan nilai-nilai manajemen dalam kehidupan dan praktik bisnisnya. Ia telah dengan sangat baik mengelola proses, transaksi, dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlihat di dalamnya.

Bagaimana gambaran beliau mengelola bisnisnya, Prof. Afzalul Rahman dalam buku Muhammad A Trader,  mengungkapkan:

“Muhammad did his dealing honestly and fairly and never gave his customers to complain. He always kept his promise and delivered on time the goods of quality mutually agreed between the parties. He always showed a gread sense of responsibility and integrity in dealing with other people”. Bahkan dia mengatakan: “His reputation as an honest and truthful trader was well established while he was still in his early youth”.

Berdasarkan tulisan Afzalurrahman di atas, dapat diketahui bahwa Nabi Muhammad adalah seorang  pedagang yang jujur dan adil  dalam membuat perjanjian bisnis. Ia tidak pernah membuat para pelanggannya komplen. Dia sering menjaga  janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Dia senantiasa menunjukkan  rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dengan siapapun. Reputasinya  sebagai seorang pedagang yang jujur dan benar telah dikenal luas sejak beliau berusia muda.

Nabi Muhammad telah meletakkan dasar-dasar moral, manajemen dan etos kerja mendahului zamannya dalam melakukan perniagaan. Dasar-dasar etika dan manajemen bisnis tersebut telah mendapat legitimasi keagamaan setelah beliau diangkat menjadi Nabi. Prinsip-prinsip etika bisnis yang diwariskan semakin mendapat pembenaran akademisi dipenghujung abad ke-20 atau awal abad ke-21. Prinsip bisnis modern, seperti tujuan pelanggan, pelayanan yang unggul, kompetensi, efisiensi, transparansi, semuanya telah menjadi gambaran pribadi dan etika bisnis Nabi Muhammad SAW ketika ia masih muda. (Yafie, 2003: 11-12).

Ada beberapa prinsip dan konsep yang melatarbelakangi keberhasilan Rasulullah SAW dalam bisnis, prinsip-prinsip itu intinya merupakan fundamental Human Etic atau sikap-sikap dasar manusiawi yang menunjang keberhasilan seseorang. Menurut Abu Mukhaladun (1994:14-15) bahwa prinsip-prinsip Rasulullah meliputi Shiddiq, Amanah dan fathanah sebagaimana berikut ini:

  1. a.      Shiddiq

Rasulullah telah melarang pebisnis melakukan perbuatan yang tidak baik, seperti beberapa hal dibawah ini.

1)      Larangan tidak menepati janji yang telah disepakati.

Ubadah bin Al Samit menyatakan bahwa Nabi SAW bersabda: “berikanlah kepadaku enam jaminan dari kamu, aku menjamin surga untuk kamu: 1) berlaku benar manakala kamu berbicara, 2) tepatlah manakala kamu berjanji (HR. Imam Ahmad dikutip dari Syeikh Abod dan Zamry Abdul Kadir, 1991: 102)

2)      Larangan menutupi cacat atau aib barang yang dijual.

Apabila kamu menjual, katakanlah: “tidak ada penipuan”. (HR. Imam Bukhari dari Abdullah bin Umar r.a. dikutip dari Yusanto dan Muhammad K.W, 2002:112).

Tidak termasuk umat Nabi Muhammad seorang penjual yang melakukan penipuan dan tidak halal rizki yang ia peroleh dari hasil penipuan. Bukanlah termasuk umatku, orang yang melakukan penipuan. (HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud melalui Abu Hurairah dikutip Yusanto dan Muhammad K.W, 2002:112).

3)      Larangan membeli barang dari orang awam sebelum masuk ke pasar.

Rasulullah telah melarang perhadangan barang yang dibawa (dari luar kota). Apabila seseorang menghadang lalu membelinya maka pemilik barang ada hak khiyar (menuntut balik/membatalkan) apabila ia telah sampai ke pasar (dan merasa tertipu). (Al-Hadits dikutip dari Alma, 1994: 70)

4)      Larangan mengurangi timbangan

Diterangkan dalam Al-Quran dalam surat Al-Muthaffifin ayat 1-6 sebagai berikut:

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

Penjual harus tegas dalam hal timbangan dan takaran. Mengenai ini Nabi juga berkata yang artinya:

Tidak ada suatu kelompok yang mengurangi timbangan dan takaran tanpa diganggu olah kerugian. (Al-Hadits, Dikutip dari Afzalurahman, 1997: 28)

  1. b.      Amanah

Amanah berarti tidak mengurangi apa-apa yang tidak boleh dikurangi dan sebaliknya tidak boleh ditambahi. Dalam hal ini termasuk juga tidak menambah harga jual yang telah ditentukan kecuali atas pengetahuan pemilik barang. Maka seorang yang diberi Amanah harus benar-benar menjaga dan memegang Amanah tersebut. Rasulullah memerintahkan setiap muslim untuk selalu menjaga Amanah yang diberikan kepadaNya. Sabda Nabi akan hal ini yang artinya: Tunaikanlah amanat terhadap orang yang mengamanatimu dan janganlah berkhianat terhadap orang yang mengkhianatimu. (HR. Ahmad dan Abu Dawud dikutip dari Yusanto dan Muhammad K.W, 2002: 105)

Sikap Amanah mutlak harus dimiliki oleh seorang pebisnis muslim. Sikap Amanah diantaranya tidak melakukan penipuan, memakan riba, tidak menzalimi, tidak melakukan suap, tidak memberikan hadiah yang diharamkan, dan tidak memberikan komisi yang diharamkan.

1)      Larangan memakan riba

Beliau (Nabi SAW) melaknat orang yang memakan riba, orang yang menyerahkannya, para saksi serta pencatatnya. (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Mas’ud Dikutip dari Yusanto dan Muhammad K.W, 2002: 112)

2)      Larangan melakukan tindak kezaliman

Seorang muslim terhadap sesama muslim adalah haram: harta bendanya, kehormatannya, dan jiwanya. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah Dikutip dari Yusanto dan Muhammad K.W, 2000: 109)

3)      Larangan melakukan suap

Laknat Allah terhadap penyuap dan penerima suap di dalam kekuasaan. (HR. Imam Abu Dawud dari Hurairah Dikutip dari Yusanto dan Muhammad K.W, 2002: 108)

4)      Larangan memberikan hadiah haram

Hadiah yang diberikan pada penguasa adalah ghulul (perbuatan curang). (HR. Imam Ahmad dan Al-Baihaqi dari Abu Hamid As-Sunnah Saidi dari ‘Ibbadh; Dikutip dari Yusanto dan Muhammad K.W, 2002: 108)

Hadiah yang diberikan kepada pejabat adalah suht (haram). (HR. Al-Khatib dari Anas r.a, Dikutip dari Yusanto dan Muhammad K.W, 2002: 108)

5)      Larangan memberikan komisi yang haram

Rasulullah mengutusku ka Yaman (sebagai penguasa daerah). Setelah aku berangkat, beliau SAW, mengutus orang menyusulku. Aku pulang kembali. Rasulullah SAW, bertanya kepadaku, “tahukah engkau, mengapa kau mengutus orang menyusulmu? “janganlah engkau mengambil sesuatu untuk kepentinganmu sendiri tanpa seizinku. (jika hal itu kamu lakukan) itu merupakan kecurangan, dan barang siapa berbuat curang pada hari kiamat kelak dibangkitkan dalam keadaan memikul beban kecurangannya. Untuk itulah, engkau aku panggil dan sekarang berangkatlah untuk melakukan tugas pekerjaanmu. (HR. Imam Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal r.a, Dikutip dari Yusanto dan Muhammad K.W, 2002: 109).

  1. c.       Fathanah

Fathanah berarti cakap atau cerdas. Dalam hal ini Fathanah meliputi dua unsur, yaitu:

1)      Fathanah dalam hal administrasi/manajemen dagang

Artinya hal-hal yang berkenaan dengan aktivitas harus dicatat atau dibukukan secara rapi agar tetap bisa menjaga Amanah dan sifat shiddiqnya. Firman Allah SWT:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua orang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Al Baqarah: 282)

2)      Fathanah dalam hal menangkap selera pembeli yang berkaitan dengan barang maupun harta.

Dalam hal fathanah ini Rasulullah mencontohkan tidak mengambil untung yang terlalu tinggi dibanding dengan saudagar lainnya. Sehingga barang beliau cepat laku. (Abu Mukhaladun, 1999: 15, syeikh Abod dan Zambry Abdul Kadir 1991:288).

Dengan demikian fathanah di sini berkaitan dengan strategi pemasaran (kiat membangun citra). Menurut Afzalurahman (1997:168) kiat membangun citra dari uswah Rasulullah SAW meliputi: penampilan, pelayanan, persuasi dan pemuasan.

a)    Penampilan, tidak membohongi pelanggan, baik menyangkut besaran (kuantitas) maupun kualitas.

b)   Pelayanan, pelanggan yang tidak sanggup membayar kontan hendaknya diberi tempo untuk melunasinya. Selanjutnya, pengampunan (bila memungkinkan) hendaknya diberikan jika ia benar-benar tidak sanggup membayarnya.

c)    Persuasi, menjauhi sumpah yang berlebihan dalam menjual suatu barang.

d)   Pemuasan, hanya dengan kesempatan bersama, dengan suatu usulan dan penerimaan, penjualan akan sempurna.

Dengan demikian sikap fathanah ini sangat penting bagi pebisnis, karena sikap fathanah ini berkaitan dengan marketing, keuntungan bagaimana agar barang yang dijual cepat laku dan mendatangkan keuntungan, bagaimana agar pembeli tertarik dan membeli barang tersebut.

  1. C.      PENUTUP

Dari pembahasan di atas terlihat bagaimana Rasulullah SAW merupakan seorang pelaku bisnis yang sangat berhasil di zamannya. Prinsip utama yang patut kita contoh dari perjalanan bisnisnya adalah uang bukanlah modal utama dalam berbisnis, tetapi membangun kepercayaan dan dapat dipercaya adalah yang utama. Selanjutnya kompetensi dan kemampuan teknis yang terkait dengan usaha. Beliau mengenal baik pasar-pasar dan tempat-tempat perdagangan., mengetahui seluk eluk aktivitas perdagangan dan perekonomian, mengetahui untungnya perdagangan dan bahayanya riba sehingga beliau menganjurkan jual beli dan menghapuskan sistem riba. Keberhasilan bisnis beliau didapat dengan menggunakan cara-cara yang sehat seperti melarang menyembunyikan cacat barang yang diperdagangkan, melarang jual beli yang mengandung ketidakpastian, dan tindakan lain yang tidak baik dalam berbisnis.

Pelajaran lain yang berharga dari praktik bisnis Rasulullah SAW adalah pengamalan prinsip Shiddiq, Amanah dan Fathanah. Shiddiq adalah Suatu sikap yang jujur, selalu berbuat baik dan menghindari perbuatan seperti tidak menepati janji yang belum atau telah disepakati, menutupi cacat atau aib barang yang dijual dan membeli barang dari orang awam sebelum masuk ke pasar. Sedangkan sifat amanah adalah tidak mengurangi apa-apa yang tidak boleh dikurangi dan sebaliknya tidak boleh ditambah, Amanah berarti tidak melakukan penipuan, memakan riba, tidak menzalimi, tidak melakukan suap, tidak memberikan hadiah yang diharamkan, dan tidak memberikan komisi yang diharamkan. Fathanah berarti cakap atau cerdas dalam hal administrasi/manajemen dagang dan fathanah dalam hal menangkap selera pembeli yang berkaitan dengan barang maupun harta. Dengan demikian fathanah di sini berkaitan dengan strategi pemasaran (kiat membangun citra). kiat membangun citra dari uswah Rasulullah SAW meliputi: penampilan, pelayanan, persuasi dan pemuasan.

Teladan dan tuntunan yang diberikan Rasulullah SAW dalam bisnis dan berekonomi ini semakin banyak dibuktikan oleh teori-teori ekonomi dan manajemen modern. Teori-teori ini semakin mendekat kepada ajaran-ajaran Rasululah SAW tentang bagaimana seharusnya roda ekonomi digerakkan dan bagaimana bisnis dijalankan.

  1. D.      REFERENSI

Muhammad & Lukman. 2002. Visi Al-Qur’an Tentang Etika dan Bisnis. Jakarta: Salemba Diniyah.

Muslich. 2004. Etika Bisnis Islami, Landasan Filosofis, Normatif dan Substansi Implementasi. Yogyakarta: Ekonisia.

Syafii, Muhammad. 2009. Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager. Jakarta: ProLM Centre & Tazkia Publishing.

http://kanal3.wordpress.com/2011/06/15/prinsip-prinsip-bisnis-rasulullah-saw/

http://www.pkesinteraktif.com/edukasi/opini/2910-meneledani-manajemen-bisnis-rasulullah.html

This entry was posted in Etika Bisnis Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>